the cutest blog on the block

Minggu, 10 Februari 2019

DAD Part II

Aku adalah salah satu orang yang tidak menjadikan ayahku sebagai role model of a dream man. My dad is the last type of person I want to have relationship with. Bukan apa apa tapi beliau adalah orang sangat keras baik tindakan maupun cara berpikir, dan terkadang aku susah mengikuti pola berpikirnya sehingga sering kali di akhir terjadi kles. Aku seperti ayahku adalah orang yang keras kepala dan apa yang aku anggap benar selalu kupertahankan ya jadi bisa dibayangkan what happen when two stubborn people have to discuss. Ya dulu mungkin saat aku kecil yang terjadi aku terpaksa menurut karna paksaan dan rasa takut.

Tapi tau nggak sih kalo abusive behavior ga bikin anak menjadi lebih penurut baik, atau hormat bahkan takut pada orangtua, yang terjadi adalah anak akan mendendam, dan kehilangan respek pada orangtuanya, sedangkan takut akan berlangsung pudar bersamaan dengan berlalunya waktu. Meskipun gak separah itu, karna lebih beruntung memiliki mama yang perbedaannya bagai langit dan bumi dengan ayah. My mom is an angel she is so cool, kind and humoris. Seakan kerasnya ayah bisa diredam oleh mama. Mama tuh ngerti banget kami anak-anaknya, selalu tau untuk melupakan luka goresan ayah dihati kami. Meskipun ga bisa berbuat apa apa ketika kami harus berurusan dengan ayah. Oke ini emang lebih sering karna kesalahan kami but hey come on we dont deserve to take a hit or verbal abuse, keterlaluan rasanya. And sometimes i hate him for that. And family always forgiving no matter what.

Dan yang terjadi adalah ketika beranjak dewasa adalah kami jadi berjarak dan ga deket. Merasa yang paling baik adalah stay away from home as far as i can. So i can breath freely and do anything whatever i want (in a goodway) without have to be judge by him. Semenjak dewasa perlakuan ini sebenernya tidak pernah terjadi lagi kecuali sesekali verbal abuse yang saking seringnya kami udah biasa aja. Did i hate him ? Sometimes, waktu mungkin ayah juga ga sengaja verbal abuse ke mama. Did he do it to her? Of course verbal abuse kan ga milih milih orang yah. Dan kami semua pernah ngalamin itu. Kok mama bisa bertahan? Pernah satu waktu ketika aku nanya ke mama kenapa sih bertahan? Kata mama yah itu karakter ayah harus diterima seperti ayah nerima semua kekurangan mama. Ayah itu asalkan udah dikeluarin baik kok. Ga dendam. Waktu itu aku cuma bisa beruntung banget yah bisa nemu orang yang nerima kekurangan kita.

Dan bukan berarti ayah ga pernah berbuat baik sama kami. He’s a person, he have a bad day and good days. Karena seiring bertambahnya usia seseorang berubah dan aku merasakannya ketika lulus kuliah. Banyak yang beliau lakukan ke aku. Menunggui lembur, menemani keluar kota, menanyakan kabar, dan yang lainnya, meskipun verbal abusenya juga terus berlangsung. But no matter what happen he’s still my dad and I love him.

Tahun kedua kelulusanku kuliah adalah tahun yang berat merasa pekerjaan yang tidak sesuai, masalah dirumah, penat dan ingin mencari pengalaman, membuat aku memutuskan untuk bekerja diluar. And well i get the job. Pada saat itu kondisi kesehatan ayah memang sangat menurun dalam beberapa tahun belakangan dan berkali kali keluar masuk rumah sakit. Awalnya aku agak ragu untuk mengambil pekerjaan itu. Tapi ayah bilang gapapa kan keluar masuk rumah sakit udah sering gausah dipikirin yang penting bisa kerja dulu. Akhirnya aku mengambil pekerjaan itu. 4 minggu bekerja aku mendapat kabar ayah sakit dan keadaannya cukup gawat, tapi pada saat telpon terakhirnya ayah bilang udah gausah dipikirin, kerja aja yang baik jangan dipikirin ayah baik kok kan masuk rs udah sering konsentrasi kerja aja. Selang berapa hari keadaan ga juga baik dan aku juga ga dikasitau keadaan sebenernya hanya bisa berdoa. Ya allah beri yang terbaik untuk ayah hamba pasrah dan percaya jalan yang allah pilih adalah yang terbaik. Sore itu hari selasa 17 juli 2018 ayah menghembuskan nafas terakhirnya tanpa aku disisinya. Pada saat kabarnya kuterima gak ada yabg bisa aku pikirkan selain pulang. Perjalanan yang aku tempuh bukan jarak dekat membutuhkan 2 hari untuk sampai ditempatku dan tanpa melihat jenazah beliau. Pada saat itu aku tekadkan tidak perlu menunggu segera makamkan jenazah jangan ditahan. Hatiku hancur. Dan hanya penyesalan berputar untuk keratusan kalinya. aku menyesal. Dan seakan semua belum cukup kepulanganku sendiri membuat semua keluarga kaget karna pesan terakhir ayah “kalo nanti ada apa apa sama aku gausah kabarin fathiyah, dia baru kerja kalo ijin pasti susah” semakin hancur hatiku apa yang harus aku katakan dan kulakukan? Semua terlihat sia-sia dan tak pernah meninggalkanku hanya penyesalan.

Yang akhirnya aku sadari setelah sekian lama, ternyata aku dan ayah saling menyakiti. Ayah menyakiti aku dengan verbal abuse nya sedangkan aku berkali kali menghancurkan hatinya dengan sikapku, entah  berapa kali aku melukai ayah dengan perkataanku, perdebatan, keras kepala, dan tanpa sempat aku memohon ampun ayah pergi untuk selamanya tanpa menengok kebelakang. Malangnya, seumur hidup aku dan ayah ga pernah dekat, ada semacam kaca tebal menghalangi kami. dan aku memilih berada diseberang dengan rasa sakit tanpa mau mengerti.

Seandainya dulu aku lebih baik
Seandainya dulu aku tidak keras kepala
Seandainya dulu aku berusaha mendekatkan diri
Seandainya dulu aku berusaha lebih baik
Mungkin penyesalanku tidak sebesar ini
Tidak sedalam ini dan tidak sesakit ini
Maaf.

Ayah bersikap keras karena sejak muda ayah membangun usaha dengan usahanya sendiri. Ayah kabur dari rumah karna tidak ingin menjadi petani, ayah menjual ijasah satu-satunya untuk modal merantau. Kadang aku berpikir mungkin ayah melakukan tindakan yang keras untuk mengajarkan kami bahwa hidup itu keras dan butuh usaha dan pengorbanan. Tapi sayangnya yang sampai hanya kerasnya didikan dan abusive behavior yang membuat aku membangun dinding dan memilih pergi untuk hidup ditempat lain karena hidup bersama ayah sungguh menyakitkan.

Sekarang, aku mengerti dulu perkataan mama ayah karakternya begitu kita harus terima, seperti ayah menerima kekurangan mama, kekuranganku. Karna aku juga bukan malaikat, melakukan salah, mungkin menyakiti ayah secara sengaja ataupun tidak tapi ayah tetap menerimaku dengan segala kekuranganku. Dan apa yang aku lakukan separuh hidupku karena ayah sering melakukan verbal abuse? Padahal yang kulakukan mungkin lebih menyakiti hati ayahku. And for a thousand times i’m sorry dad. Terakhir, buat kalian yang mungkin membaca ini dan masih memiliki ayah plis do your best to make him happy or proud. You dont have any idea what his been through to rise you until now. Maybe he has doing something that hurt you so bad but trust me you dont want to feel regret the same way i did. Sayangi ayah selagi masih ada waktu, karna mereka semakin tua dan lemah.
Hai dad i’m sorry, I love you